FITRAH KASIH SAYANG DAN KEBERSAMAAN

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Edukasi,-Kita lahir ke dunia ini karena adanya landasan mawaddah warahmah atau mahabbah warahmah, cinta dan kasih sayang. Kita lahir karena adanya cinta dan kasih sayang dari ibu dan bapak kita. Kita lahir melalui kasih sayang kedua orang tua kita dan kelahiran kita disambut oleh kasih sayang kerabat, saudara dan handai taulan kita.

Oleh karena itu kita lahir untuk membawa misi rahmatan lilalamin. Kita lahir untuk menyebar kasih sayang kepada seluruh lapisan umat manusia, bahkan sesama makhluk ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Kita mencintai orang tua, mencintai keluarga, mencintai kerabat  dan sanak saudara, mencintai tetangga, mencintai seluruh lapisan bangsa, bahkan seluruh lapisan kemanusiaan. Kita lahir dengan membawa mahabbah warahmah.

Hanya karena godaan dan pengaruh syetanlah manusia kehilangan fitrahnya, berubah menjadi makhluk yang kehilangan cinta, menjadi pembenci, pendengki, kasar dan pendendam kepada sesama manusia. Seperti dalam firman Allah: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al Maidah: 91)

Dengan modal kasih sayang dan cinta kepada sesama itulah, kita berharap mendapatkan kasih sayang Allah yang sangat dalam setiap gerak, langkah dan kehidupan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam: Mereka yang menyayangi itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi maka yang ada di langit akan menyayangimu. (HR. At Tirmidzi)

Dengan fitrah dan kelahiran yang penuh cinta itulah kita mendapatkan kehormatan dan kemuliaan, dengan kemuliaan dan kehormatan yang tidak diberikan kepada makhluk selain manusia. “….dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Al-Isra: 70)

Allah subhanahu wata’ala pemilik kehormatan hakiki, telah memberikan kemuliaan kepada kita –kaum mukminin- di atas semua makhluk lainnya yang diciptakan-Nya. “Padahal izzah (kehormatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”. (Qs Munafiqun 8)

Kita lahir sudah dengan mengemban amanah dan memikul tanggung jawab yang sebelumnya telah ditawarkan oleh Allah SWT kepada makhluk-makhluk-Nya yang lain: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh”. (Qs. Al Ahzab 72)

Selain fitrah cinta dan kasih sayang sebagai makhluk yang bertugas memakmurkan bumi ini, fitrah kehidupan menegaskan tentang keanekaragaman perbedaan manusia. Ada perbedaan suku bangsa, perbedaan bahasa, perbedaan warna kulit, perbedaan rizki, ada mustahiq ada muzakki, ada yang kuat ada yang lemah, dan masih banyak lagi perbedaan lain yang tak terhitung jumlahnya. Alloh swt berfirman:  “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat: 13)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (QS. Ar Rum: 22)

Allah menciptakan berbagai perbedaan itu untuk menjalin sinergi dan kerjasama, tidak untuk saling merendahkan dan menghina. Bukankah indahnya taman itu ketika ada bunga yang beraneka ragam warna. Rasulullah mengingatkan hal ini dalam khutbahnya di Mina pada hari tasyriq: “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan ayah kalian adalah satu, ketahuilah bahwasanya tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa ‘Ajam (non Arab) demikian juga tidak ada keutamaan bangsa ajam atas bangsa Arab. Tidak ada keutamaan yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, atau yang hitam atas yang merah kecuali karena taqwanya”.(HR. Ahmad).

Marikita jalin dan rajut kebersamaan dalam naungan Ilahi dan bingkai NKRI, karena terbukti dengan kebersamaan akan memudahkan berbagai urusan dan menyelesaikan berbagai persoalan hidup berbangsa dan bernegara.

Semoga dengan kebersamaan terwujud Negeri yang makmur dan sejahtera dalam ridho Alloh swt. aamiin

Share.

Comments are closed.