PELAJARAN DARI KEMATIAN

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur an surat Al-Imran ayat 185 yang artinya : “Sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian dan sesungguhnya semua amalan akan disempurnakan diakhirat nanti “.

Setiap orang pasti akan merasakan kematian yang mana akan mengakhiri semua urusan duniawi, dan pekerjaan rutinitas setiap hari. kematian akan mendatangi setiap orang tanpa memberitahu sebelumnya. Banyak orang beranggapan, bahwa ia akan hidup terus, dan dapat menikmati kehidupan dunia selamanya. Padahal sesungguhnya kematian, tidak akan melalaikan manusia, walaupun seseorang memiliki harta yang melimpah, bangunan yang kokoh dan megah itu hanyalah sebagai ujian bagi mereka. Sang pencipta alam ini memberikan gambaran dalam Al Qur’an: Artinya:“Bahwa hartamu anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (Al Anfal: 28).

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, ya Rasulullah siapakah orang yang Cerdas dan siapakah orang yang paling bijaksana .?Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

           Kematian merupakan universitas terbaik dan bisa dijadikan guru dalam kehidupan kita. Diantara nasehat dan pelajaran yang ingin disampaikan oleh guru kematian adalah:

  1. Kematian mengajarkan bahwa waktu dan hidup itu sangat berharga

Pelajaran bagi seorang mukmin yang mampu mengajarkan betapa berharganya nilai waktu adalah kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengajarkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” Dan Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”.

  1. Kematian mengajarkan bahwa kita bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa.

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

  1. Kematian mengajarkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Allah swt dalam ayat suci Al-Qur’an , surat Al-an’am, ayat 32 mengingatkan kita, Artinya:“Dan tidaklah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendagurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa”. Banyak orang yang hanyut dalam kesenangan yang semu, sementara mereka lupa akan Tuhannya, karena mereka hanya berlomba dalam hal keindahan dunia saja. Untuk mencapai apa yang di kehendaki, mereka tidak mempedulikan antara yang hak dan yang batil, antara halal dan haram. Mereka melupakan kematian yang pasti akan terjadi, mereka terus-menerus melakukan kerusakan, tanpa mau berfikir terhadap sesuatu yang pasti akan datang yang terus mengintainya dan hendak menjemputnya, yaitu kematian.

Marikita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal soleh sebelum ajal datang menjemput, dan minta ampunlah kepada Allah swt dari segala dosa yang telah kita lakukan,sungguh bahwa setiap manusia ketika datang kematian tidak ada tempat untuk berlari, untuk berhindar dan bersembunyi.

Share.

Comments are closed.